الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي حَذَّرَنَا مِنْ طُرُقِ الْغَشِّ وَالطُّغْيَانِ، وَأَمَرَنَا بِالْأَمَانَةِ وَالْإِحْسَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الدَّيَّانُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ بِالْقِسْطِ وَالْمِيْزَانِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى هِيَ سَبِيْلُ النَّجَاةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: “وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Di awal Surah Al-Muthaffifin, Allah SWT memulai dengan kalimat yang menggetarkan: “Wailul lil muthaffifin”. Kata Wail menurut para mufassir bisa berarti lembah di neraka yang sangat dalam, atau sebuah ancaman kecelakaan dan kehancuran yang dahsyat. Ancaman ini ditujukan kepada Al-Muthaffifin, yaitu orang-orang yang berbuat curang.
Secara definisi, Al-Muthaffifin berasal dari kata thafafa yang berarti sesuatu yang sedikit. Secara istilah, mereka adalah orang-orang yang jika menerima takaran dari orang lain minta dipenuhi (bahkan dilebihkan), namun jika mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka menguranginya. Ini adalah bentuk ketidakadilan yang sistematis demi keuntungan pribadi yang sedikit.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ayat ini sebenarnya tidak secara spesifik membicarakan masalah kecurangan dalam timbangan sebagaimana kisah kaum nabi Syuaib AS, namun lebih dari itu ia menyinggung praktek kecurangan secara umum yang sering terjadi dalam hubungan sosial. Praktek kecurangan saat ini telah bertransformasi ke dalam berbagai bentuk yang lebih canggih dan sistemik dalam berbagai aspek kehidupan, semisal..
- Dalam Perniagaan: Tidak hanya mengurangi timbangan fisik seperti mengurangi spek barang, tapi juga termasuk menyembunyikan cacat barang, manipulasi data digital, kecurangan transaksi jual beli online, kuota yang tiba-tiba habis tanpa digunakan, penimbunan barang untuk mempermainkan harga, dan kecurangan-kecurangan lainnya.
- Dalam Birokrasi dan Pemerintahan: Kecurangan menjelma menjadi korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Ketika seorang pejabat publik meminta hak dan fasilitas penuh dari negara, namun mengurangi kewajibannya dalam melayani rakyat, ia adalah termasuk Muthaffif. Ketika aturan hukum dipermainkan demi kepentingan kelompok, itu adalah pengurangan “timbangan keadilan”.
- Dalam kehidupan berasyarakat: Kecurangan hadir dalam bentuk berbagai bentuk, seperti memanipulasi fakta dalam administrasi yang berujung merugikan pihak tertentu, memotong dana bantuan sosial bagi orang miskin, hingga ketidakjujuran dalam kompetisi politik demi meraih kekuasaan.
Nabi Muhammad SAW memberikan peringatan keras melalui lisan beliau yang mulia:
مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا
“Barangsiapa yang curang (menipu) kami, maka ia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Muslim).
Bahkan, kecurangan yang dilakukan oleh pemimpin atau pemangku kebijakan memiliki dampak sistemik yang bisa menghancurkan keberkahan suatu negeri. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kehancuran kaum Nabi Syuaib AS disebabkan oleh satu dosa besar, yaitu kecurangan dalam timbangan dan takaran. Jika kecurangan telah merata dari tingkat penguasa hingga rakyat jelata, maka tunggulah datangnya adzab Allah berupa krisis dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk musibah paceklik dan berkuasanya orang-orang yang dhalim.
Hadirin Rahimakumullah,
Tokoh Sufi terkenal, Fudhail bin Iyadh pernah berkata bahwa kejujuran adalah perhiasan orang yang berakal, sedangkan kecurangan adalah awal dari kehancuran karakter. Orang yang curang mungkin mendapatkan harta yang melimpah, namun ia kehilangan keberkahan. Harta haram hasil kecurangan akan menjadi api yang membakar dagingnya sendiri di akhirat kelak.
Ma’asyiral Muslimin,
Apa tindakan yang harus kita lakukan untuk membentengi diri dari penyakit Muthaffifin ini? Dalam hal ini setidaknya ada tiga hal yang harus kita lakukan :
- Menumbuhkan sikap Muraqabah: Merasa selalu diawasi oleh Allah.
Secara bahasa, Muroqobah (مراقبة) berasal dari akar kata raqaba yang berarti menjaga, mengamati, atau menantikan. Dalam istilah tashawwuf dan akhlak, Muroqobah adalah kesadaran penuh seorang hamba bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi dirinya dalam setiap keadaan, setiap detik, baik lahir maupun batin. Seorang yang memiliki sikap muroqobah meyakini bahwa tidak ada satu pun getaran hati atau gerakan anggota tubuh yang luput dari pandangan Allah.
- Menjaga Integritas dari Hal-hal yang Kecil: Kejujuran dalam perkara besar dimulai dari kejujuran dalam perkara kecil. Hendakny kita tidak meremehkan “pengurangan (kecurangan)” terhadap hak orang lain walau hanya sekecil debu, karena justru dari hal-hal kecil yang kita remehkan tersebut, pada akhirnya akan berani melakukan kecurangan yang lebih besar.
- Amar Ma’ruf Nahi Munkar: Dalam konteks kecurangan yang dilakukan oleh penguasa, masyarakat hendaknya berani bersuara, mengingatkan, memberikan kritik, saran dan masukan apabila terdapat kebijakan yang tidak adil. Sebaliknya pemerintah juga tidak boleh menutup pintu kritik tersebut, tetap membuka ruang dialog untuk menemukan solusi bersama terkait kebijakan yang disoroti Masyarakat. Sementara dalam konteks kecurangan yang dilakukan sesama masyarakat, harus diselesaikan dengan norma dan hukum yang berlaku dengan tetap mengedepankan cara-cara damai penuh kekeluargaan.
Ma’asyiral Muslimin,
Kecurangan adalah penyakit yang menghancurkan tatanan sosial dan mengundang murka Ilahi. Ancaman “Wail” bukan sekedar guyonan dan main-main. Oleh karenanya, di tahun yang baru ini, mari kita bersihkan saku-saku kita dari harta yang haram, bersihkan amanat tugas dan jabatan kita dari penyalahgunaan wewenang, dan bersihkan hati kita dari keinginan untuk mengambil hak orang lain. Kejujuran mungkin terasa pahit dan berat, namun ia adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
فَيَا عِبَادَ اللهِ اُوْصِيْنِيْ نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا
اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا
اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ
اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ، وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ حُكَّامًا وَمَحْكُوْمِيْنَ، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، اَللّٰهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَاهُمْ، وَفُكَّ أَسْرَانَا وَأَسْرَاهُمْ، وَاغْفِرْ لِمَوْتَانَا وَمَوْتَاهُمْ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَأَقِمِ الصَّلَاةَ
