JEPARA (kmfjepara.com) – Peringatan Haul ke-16 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang digelar PCNU Jepara di Gedung NU, Senin (5/1/2026), tidak hanya menjadi ruang doa dan nostalgia, tetapi juga momentum refleksi bersama lintas iman tentang pentingnya menghidupkan nilai keadilan, kemanusiaan, dan keberanian berpihak pada kelompok rentan.
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Harlah ke-103 Nahdlatul Ulama ini dihadiri Pengurus PBNU KH Miftah Faqih, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jepara H. Akhsan Muhyiddin beserta jajaran, Ketua FKUB KH Hasyim Shilah, jajaran tokoh lintas agama, Rois Syuriyah PCNU KH Hayatun Nufus, Ketua Tanfidziyah PCNU KH Charis Rohman, serta perwakilan Banom, lembaga NU, MWC NU, dan undangan lainnya.

Panitia Haul, Gus Huda selaku Katib Syuriyah PCNU Jepara, menyampaikan apresiasi atas kehadiran para tokoh lintas agama dan seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, kehadiran mereka menjadi bukti bahwa nilai-nilai Gus Dur terus hidup dan relevan dalam merawat kebersamaan di tengah keberagaman.
“Haul ini bukan sekadar mengenang sosok Gus Dur, tetapi merawat spirit beliau agar terus menjadi energi moral dalam kehidupan berbangsa,” ujarnya.
Dalam sesi testimoni, para tokoh lintas agama menyampaikan pandangan reflektif tentang keteladanan Gus Dur yang dinilai melampaui sekat agama dan identitas.
Sugandi, rohaniawan Konghucu asal Jepara, menegaskan bahwa Gus Dur memiliki peran historis yang sangat besar bagi komunitas Tionghoa dan umat Konghucu di Indonesia. Ia menyebut Gus Dur sebagai figur yang berani berdiri di garis depan dalam memperjuangkan pengakuan dan perlindungan hak-hak minoritas.
Sementara itu, Pendeta Wiryohadi memaknai keteladanan Gus Dur sebagai perwujudan nyata nilai kasih dalam tindakan. Menurutnya, Gus Dur tidak menimbang seseorang dari latar belakang agama atau etnis, melainkan dari sisi kemanusiaannya.
“Ketika ada yang tertindas, Gus Dur selalu hadir. Itu nilai universal yang melampaui sekat-sekat formal,” tuturnya.
Pendeta Danang Kristiawan menambahkan bahwa Gus Dur meninggalkan dua warisan penting: gagasan kerukunan yang berkeadilan serta penggunaan humor sebagai sarana meredam konflik. Ia menilai humor Gus Dur bukan sekadar canda, tetapi strategi kultural untuk membuka dialog dan menurunkan ketegangan sosial-politik.
Dalam mauidhahnya, Pengurus PBNU KH Miftah Faqih mengingatkan warga Nahdlatul Ulama agar menjadikan haul sebagai ruang evaluasi diri. Ia menegaskan bahwa spiritualitas Gus Dur harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan berhenti pada seremoni.
“Kita harus menjadi pelayan umat yang tulus, berani membela yang lemah, dan tetap dewasa dalam bersikap,” pesannya.
Haul ke-16 Gus Dur di Jepara ini menegaskan kembali bahwa warisan terbesar Presiden ke-4 RI tersebut bukan hanya pemikiran, melainkan keberanian moral untuk menempatkan kemanusiaan sebagai nilai tertinggi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
